Yogyakarta, Kota Filosofi yang Mendunia
Yogyakarta bukan sekadar kota pelajar atau tujuan wisata favorit. Kota ini juga menyimpan filosofi mendalam yang tertuang dalam tata ruangnya. Sumbu Filosofi Yogyakarta adalah salah satu warisan terpenting: poros imajiner yang menghubungkan Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, dan Tugu Pal Putih.
Poros ini bukan hanya garis lurus di peta, melainkan cerminan pandangan hidup Jawa tentang perjalanan manusia dari lahir hingga meninggal. Dirancang oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada abad ke-18, tata ruang ini menjadi bukti betapa erat hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta dalam budaya Jawa.
Tak heran, pada 18 September 2023, UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Dunia dengan nama The Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks.
Di Balik Ramainya Wisata, Ada Ketimpangan
Meski nama Yogyakarta kian mendunia, tak semua warganya merasakan manfaat dari perkembangan pariwisata. Data BPS DIY pada Maret 2024 mencatat ada lebih dari 445 ribu jiwa penduduk miskin (10,83%), angka tertinggi di Pulau Jawa. Meski sempat menurun pada September 2024, kesenjangan masih terasa.
Indikator lain, rasio Gini sebesar 0,428, menunjukkan jurang yang cukup lebar antara kelompok kaya dan miskin. Artinya, geliat wisata belum sepenuhnya mampu memberi kesejahteraan yang merata.

Dari Kuantitas Menuju Kualitas
Kondisi inilah yang melahirkan gagasan tentang quality tourism. Konsep ini berbeda dengan pariwisata massal (mass tourism) yang hanya mengejar banyaknya kunjungan. Quality tourism justru menekankan pengalaman wisata yang lebih bermakna, keuntungan yang lebih adil, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat lokal.
Pemerintah pun menargetkan Indeks Kualitas Destinasi naik dari 75,2 pada 2022 menjadi 82,5 pada 2025, sebagai wujud komitmen menuju pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan.
Ikatan Emosional dan Identitas Sosial
Pariwisata yang baik tak hanya soal infrastruktur, tapi juga hubungan emosional. Konsep place attachment atau keterikatan tempat menjelaskan bagaimana wisatawan dan warga bisa merasa “terhubung” dengan suatu lokasi, baik karena fungsinya maupun makna simbolisnya.
Di sisi lain, identitas sosial berperan dalam memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap Sumbu Filosofi. Dengan rasa kebersamaan yang kuat, masyarakat bisa lebih aktif menjaga budaya sekaligus menyambut wisatawan dengan cara yang ramah dan bermakna.
Fenomena inilah yang mendorong sekelompok mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) tergerak melakukan riset. Melalui program PKM-RSH (Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora) yang didanai oleh Belmawa Kemdiktisaintek, mereka mencoba mencari jawaban: bagaimana pariwisata di Sumbu Filosofi bisa benar-benar berkualitas, adil, dan berkelanjutan?

Tim riset ini diketuai oleh M. Mustofah Bisri, bersama anggota Safira Ika Maharani, Aurell Sava Fil Salsha Billa, Namira Eltsabita Annabih, dan Ryan Rezza Mahendra, di bawah bimbingan Dr. Rina Mulyati, S.Psi., M.Si., Psikolog.
